Selasa, 03 Februari 2015

Permen dan balon gas




Ketika aku sedang duduk ditaman. Ada seorang anak kecil. Dia laki-laki manis,polos dan ganteng. Dia merajuk kepadaku dan menunjuk kearah pedagang balon yang berlawanan arah denganku. Ternyata dia menginginkan balon gas itu.
Singkat cerita balon gas itu sudah ada di tangan si anak laki-laki itu. Dia lari kesana kemari dengan maksud memperlihatkan balon gas yang didapatkannya. “ lucu sekali anak itu.” Ujarku dalam hati sambil tersenyum. Setengah jam kemudian anak kecil itu menghampiriku lagi. Namun kali ini wajahnya murung, matanya sembab, dan tangannya yang lengket dengan tusuk lidi yang di genggam olehnya . Lalu ku Tanya. “ ade kenapa nangis ? Balon yang tadi kaka kasih mana?” dengan polosnya anak itu menunjuk kearah langit lalu berbicara “ ka, balonku sudah terbang. Aku sedih, aku baru tersadar balon itu marah gara-gara aku mengacuhkannya demi sebuah permen gulali yang aku tidak begitu inginkan. Tadi setelah aku membeli permen aku tersandung batu, permen ku jatuh. Ketika aku akan mengambilnya aku lupa kalau aku sedang memegang balon. Dan setelah ku sadar balonnya sudah terbang.”  Aku hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan anak kecil itu. Setelah itu, aku mengeluarkan dua batang permen lollipop dan memberikan kepada anak kecil tersebut. Dalam seketika raut muka anak kecil tersebut berubah. Dia tersenyum kembali, dan dia memelukku. Setelah itu dia kembali pergi sambil bernyanyi dan memamerkan lollipop tersebut kepada pengunjung taman yang lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Blogger Templates